Selasa, April 27

Tidak Tersulut Saat Dihina Orang Lain



Ren, Sabar

Ren, Sabar

Ada seorang yang bernama Chen Zhiding yang tinggal di luar gerbang Bianyi dari kota Yangzhou di masa dinasti Qing. Dia dan ketiga putranya mencari nafkah dengan menjual beras di toko mereka yang kecil. Karena mereka menjual beras satu sen lebih murah dari toko lain, semua orang miskin datang ke tokonya untuk membeli beras. Diluar dugaan, hanya dalam waktu sekitar 4 tahun, ia berhasil mengakumulasi beberapa ratus liang perak (hitungan Tiongkok dulu).

Suatu malam, papan tebal yang menutupi parit di luar pintu depan dari lumbung mereka dicuri. Keesokan hari, ketiga anaknya berteriak di jalan: "Siapa yang mengambil papan penutup parit? Silahkan mengembalikannya secepat mungkin untuk menghindari kutukan" Setelah mereka berteriak beberapa kali, tidak ada satu orang pun menjawab. Malam itu, diluar dugaan mereka, ada seorang bajingan, yang sungguh-sungguh mabuk dan melepaskan pakaiannya, dan berdiri dengan telanjang dada di depan toko mereka. Waktu itu musim semi dingin. Bajingan yang mabuk itu sambil berdiri di depan toko dan meneriakkan beberapa kata:

"Aku yang mencuri papan penutup parit dan menjualnya untuk membeli arak. Jika kamu berani keluar, aku akan berkelahi dengan kamu sampai mati. Jika kamu tidak berani keluar, aku akan mengutuki tiga generasi leluhur kamu." Ketiga anak laki-lakinya tidak bisa mentolerir penghinaan dan ingin keluar untuk memberi pelajaran bagi bajingan itu. Zhiding mengunci pintu dan mengatakan kepada anak-anaknya: "Dia mabuk dan hari sudah gelap. Sangatlah sulit untuk melihat siapa dia. Biarkan dia mengutuk dan tidak usah repot-repot bertengkar dengan dia." Bajingan itu kemudian mengambil lumpur dan mengoleskannya di pintu depan. Dia terus mengutuk sampai kehilangan suaranya dan terengah-engah. Dan akhirnya bajingan itu bosan dan meninggalkan tempat itu. Karena sedang mabuk dan tanpa pakaian, dia kedinginan dan lelah berteriak. Akhirnya bajingan itu meninggal pada tengah malam itu juga.

Istri bajingan itu berpikir: "Ketika ia berteriak dan menghina keluarga Chen, mereka menutup pintu dan tidak membalas. Begitu pula mereka tidak keluar untuk bertengkar dengannya. Maka kami tidak punya kasus untuk mengadu keadilan pada pejabat kekuasaan." Oleh karena itu, istrinya harus membeli peti mati dan menguburkan suaminya sendiri.


Tiga anak Chen berkata: "Jika kami tidak mendengarkan ayah kami dan pergi keluar untuk bertengkar dengan dia, bagaimana mungkin kita bisa terbebas tanggung jawab atas kematiannya? "

Leluhur kita telah memberi teladan bahwa sabar adalah kunci hidup bebas masalah.

 (Erabaru/ed)


0 コメント::

Posting Komentar

There is a price to be paid to grow. The pay is commitment.

 

Copyright © Dira's blogpage. Template created by Volverene from Templates Block
WP by WP Themes Master | Price of Silver